Bhayangkara Nusantara - Pentas seni Kuda Lumping bukan sekadar tontonan hiburan semata, namun telah menjelma menjadi motor penggerak vital bagi perekonomian lokal dan pelestarian budaya di berbagai daerah. Salah satu buktinya terlihat jelas dalam gelaran akbar di Pekon Pandansari, Sukoharjo, Kabupaten Pringsewu, Lampung, yang sukses memukau ribuan pasang mata. Pertunjukan gemilang dari grup tari Wahyu Mandiri Budoyo Putro di bawah pimpinan Hadi Sugiarto ini tidak hanya menyajikan keindahan gerak dan musik tradisional, tetapi juga secara signifikan mengerek aktivitas ekonomi di sekitarnya.
Antusiasme masyarakat Pringsewu yang memadati area pertunjukan adalah cerminan kuat dari kecintaan mereka terhadap warisan budaya leluhur. Lebih dari itu, kepadatan penonton ini secara langsung berimplikasi positif terhadap geliat ekonomi kreatif dan sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) setempat. Para pedagang kuliner dan suvenir lokal menjajakan dagangan mereka dengan ramai, menciptakan sebuah ekosistem ekonomi mikro yang hidup. Fenomena ini membuktikan bahwa seni tradisional seperti Kuda Lumping memiliki potensi besar sebagai katalisator pariwisata budaya dan sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat, sekaligus menumbuhkan rasa memiliki dan kepedulian terhadap kebudayaan lokal.
Di tengah dinamika zaman, upaya pelestarian seni tari Kuda Lumping adalah sebuah keharusan agar warisan berharga ini tidak lekang oleh waktu. Dalam konteks ini, peran aktif Paguyuban Banteng Suro dan Panji Sewu di Kabupaten Pringsewu sangat krusial. Kedua paguyuban ini secara konsisten memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai asal-usul, fungsi sejati, dan meluruskan persepsi negatif seputar seni Kuda Lumping. Mereka menekankan bahwa esensi utama dari budaya ini adalah memupuk kerukunan dan teposelero (toleransi dan tenggang rasa) antar sesama, jauh dari kesan mistis atau hal-hal negatif yang kerap disalahpahami.
Selain melestarikan seni, Paguyuban Banteng Suro juga mengintegrasikan dimensi sosial melalui kegiatan bakti sosial berupa layanan refleksi relaksasi atau pengobatan non-medis. Kegiatan ini, seperti yang terjadi di Pekon Pandansari pada 11 Januari 2026, menjadi bentuk nyata kepedulian terhadap kesejahteraan masyarakat. Menurut Linus, Ketua Paguyuban Banteng Suro, kegiatan semacam ini telah diagendakan berdasarkan kesepakatan internal, namun mereka juga terbuka untuk memenuhi permintaan kelompok masyarakat yang membutuhkan bantuan relaksasi. Linus berharap kehadiran Banteng Suro di Pringsewu dapat memberikan kontribusi positif bagi perkembangan seni budaya tradisional Jawa, khususnya Kuda Kepang. Lebih lanjut, ia mengisyaratkan potensi kerja sama dengan dinas kesehatan di masa depan untuk menyelenggarakan kegiatan pengobatan, baik medis maupun non-medis, menunjukkan visi yang komprehensif untuk pelayanan masyarakat.
Di sela-sela kemeriahan pentas seni, Tim Bakti Sosial pengobatan alternatif terapi non-medis dari Paguyuban Banteng Suro dan Panji Sewu tampak sigap membantu masyarakat yang membutuhkan. Dengan dedikasi tinggi, tim ini berjibaku menangani berbagai keluhan, mulai dari kasus saraf kejepit, asam lambung, hingga penyakit lainnya. Tercatat, lebih dari 50 orang telah menerima manfaat dari pijatan refleksi yang diberikan, menunjukkan tingginya kebutuhan akan layanan semacam ini. Mengakhiri sesi, tim refleksi Banteng Suro tidak lupa memberikan pesan penting: “Menjaga kesehatan adalah investasi terbaik untuk masa depan yang lebih baik.” Pesan ini menegaskan bahwa keselarasan antara budaya, ekonomi, dan kesehatan adalah kunci menuju masyarakat yang lebih sejahtera dan berdaya.
Penulis: Arman
Subscribe Our Newsletter
0 Komentar
Post a Comment